Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menjalankan satu inisiatif besar di awal 2026 dengan memulihkan kawasan kritis di Kalimantan Timur. Perusahaan ini menggandeng SKK Migas Wilayah Kalimantan Sulawesi untuk merehabilitasi 345 hektare Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggar dan Sungai Wain di Balikpapan.
Program tersebut bukan sekadar formalitas regulasi, tapi bagian nyata dari upaya perlindungan lingkungan yang lebih luas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui metode tanam yang inovatif. Kawasan DAS Manggar dan Sungai Wain memiliki peran penting dalam menjaga fungsi hidrologis Balikpapan.
Selama bertahun-tahun, area ini mengalami degradasi yang mempengaruhi kualitas air, tanah, dan keseimbangan ekosistem. Menjawab tantangan ini, PHM meluncurkan rehabilitasi dengan pendekatan yang menyatukan aspek ekologis dan sosial, serta memberi harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan lindung.
Model Agroforestri Jadi Kunci Pemulihan Ekosistem dan Ekonomi
Pendekatan Rehabilitasi yang Inklusif
Alih-alih sekadar menanam pohon tanpa arah, PHM memilih sistem agroforestri yang lebih dinamis. Metode ini memadukan tanaman kayu endemik Kalimantan dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi. Model tanam ini memungkinkan lahan hutan lindung berfungsi kembali secara ekologis sambil tetap mendukung peningkatan pendapatan bagi komunitas lokal.
Di setiap hektare lahan rehabilitasi, PHM menanam kombinasi sekitar 400 batang tanaman pokok seperti meranti, mahoni, dan jelutung bersamaan dengan 100 batang tanaman sela komersial seperti durian, manggis, nangka, leci, alpukat, jeruk siam madu, kopi, pala, dan kayu manis.
Pola tanam seperti ini bukan hanya memulihkan fungsi hutan, tapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi warga sekitar yang terlibat dalam program ini.
Keterlibatan Kelompok Tani
Peran serta masyarakat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan program ini. PHM bermitra dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang dibina melalui Program Perhutanan Sosial Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Balikpapan.
Pendekatan ini memastikan bahwa rehabilitasi DAS bukan sekadar proyek korporat, tetapi berjalan bersama masyarakat yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap lahan yang direvitalisasi.
Ketua Gapoktan Mitra Wana Lestari, salah satu kelompok tani binaan, menyatakan bahwa model agroforestri ini membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan lewat hasil kebun buah dan hasil hutan lain yang bernilai ekonomis.Proses Rehabilitasi dari Penanaman hingga Pemeliharaan
Tahap Pelaksanaan
Program rehabilitasi DAS Manggar dan Sungai Wain dimulai dengan penanaman pohon serentak yang dilakukan pada 20 Desember 2025 di wilayah kerja Mahakam dan titik utama DAS Manggar Kilometer 12 di Balikpapan.
Kegiatan penanaman ini bukan hanya menandai dimulainya tindakan nyata, tetapi juga menegaskan komitmen perusahaan dan pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem secara jangka panjang.
Lokasi rehabilitasi di Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, kini memasuki tahap pemeliharaan tahun pertama, di mana tanaman yang sudah ditanam dirawat dengan cermat agar dapat tumbuh dengan optimal dan fungsinya kembali sebagai hutan lindung yang produktif.Dasar Hukum yang Mendukung
Pelaksanaan rehabilitasi ini didukung oleh penetapan lokasi resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui keputusan menteri yang memberikan landasan hukum kuat bagi program tersebut.
Hadirnya dasar hukum ini membantu memastikan bahwa rehabilitasi dilakukan sesuai regulasi, menjaga keterbukaan, dan menghasilkan manfaat nyata baik bagi lingkungan maupun masyarakat.
Dampak Jangka Panjang Bagi Lingkungan dan Masyarakat
Menahan Degradasi Lingkungan
Dengan dikembalikannya fungsi hutan di wilayah DAS Manggar dan Sungai Wain, risiko ancaman seperti erosi tanah, banjir, dan hilangnya habitat alami secara perlahan dapat ditekan.
Pohon-pohon yang ditanam bukan sekadar pernak-pernik hijau, tetapi merupakan benteng alami yang menjaga keseimbangan siklus air dan udara di wilayah Balikpapan.
Membuka Akses Ekonomi Baru
Keterlibatan masyarakat dalam model agroforestri membuka akses bagi mereka untuk menghasilkan pendapatan melalui hasil kebun buah, kopi, atau produk turunan lain.
Pendekatan ini membantu memutus ketergantungan penuh pada sumber daya alam yang merusak, dan mendorong masyarakat untuk beralih ke model ekonomi yang lebih lestari.
Kontribusi terhadap Program Nasional
Rehabilitasi DAS ini sekaligus bersinergi dengan program pemerintah dalam penurunan emisi karbon dan penghijauan nasional. PHM berharap langkah ini bisa menjadi kontribusi nyata terhadap target lingkungan yang lebih luas serta memperkuat ketahanan ekologis dan sosial di Kalimantan.
Rehabilitasi 345 hektare DAS Manggar dan Sungai Wain oleh Pertamina Hulu Mahakam bukan sekadar proyek teknis, tapi langkah komprehensif yang merangkul aspek ekologis, sosial, dan ekonomi.
Dengan sistem agroforestri, kolaborasi bersama kelompok tani, serta dukungan hukum dan pemerintah, program ini membuka peluang baru bagi kesejahteraan masyarakat serta menjaga fungsi hutan untuk generasi mendatang.
