Seorang kepala sekolah dasar di Lampung Utara jadi sorotan publik setelah aksinya protes soal kualitas makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Aksi keras ini bukan hanya berbicara soal makanan yang dinilai tidak layak, tetapi juga menyuarakan kekhawatiran tentang keselamatan anak sekolah yang menerima paket makan tersebut.
Protes ini mencuat setelah video kepala sekolah menampilkan kondisi makanan MBG yang dianggap tidak pantas dikonsumsi anak didiknya. Reaksi masyarakat pun langsung ramai, beragam dukungan dan komentar muncul dari netizen yang menyoroti pentingnya standar gizi serta keamanan pangan dalam program pemerintah.
Apa yang Membuat Kepala Sekolah Turun Tangan
Kritik Terhadap Isi Paket MBG
Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 di wilayah Sindang Sri, Lampung Utara, tidak bisa menahan emosinya ketika menunjukkan isi paket MBG yang diterima pihak sekolah. Menurutnya, paket makanan tersebut sama sekali tidak memenuhi standar layak konsumsi.
Tempat makan itu berisi telur mata sapi, sayuran, tempe, dan buah anggur. Namun dari observasinya, tempe yang diberikan sudah berlendir dan buah anggur terlihat rusak atau busuk, membuatnya khawatir akan risiko kesehatan bagi para siswa yang menerimanya. Ia bahkan menyatakan bahwa kondisi seperti ini bukan satu kali terjadi.
Dalam video yang beredar luas, kepala sekolah mengungkapkan kekecewaannya kepada pengelola MBG dengan kata-kata tegas bahwa makanan seperti itu tidak pantas disajikan kepada anak-anak sekolah. Ia mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab jika sampai terjadi keracunan makanan.Isu Kelayakan dan Tanggung Jawab
Protes ini bukan semata soal kritik, tetapi juga tentang pertanggungjawaban dan bagaimana pengelola MBG menjamin standar gizi dan kebersihan makanan. Ia mendesak perbaikan dalam manajemen dapur MBG dan meminta pihak yang bertanggung jawab untuk hadir serta menjelaskan situasi tersebut.
Tidak hanya menyoroti kualitas makanan, kepala sekolah juga menyinggung tentang keterlambatan operasi dapur MBG yang sempat berhenti beroperasi karena anggaran dari pemerintah pusat belum cair. Ketika program berhenti, menurutnya tidak ada kompensasi atau penjelasan yang memadai dari pihak terkait.
Dalam protesnya, ia juga menekankan pentingnya sumber daya manusia yang kompeten dalam menyusun dan menyiapkan menu MBG. “Kalau orangnya tidak mampu menjaga standar, seharusnya diganti,” ucapnya, menitikberatkan pada kualitas tenaga pengelola makanan.Reaksi Publik yang Mendukung
Viral di Media Sosial
Unggahan video protes kepala sekolah itu langsung menyebar di berbagai platform sosial, terutama TikTok, dan ditonton jutaan kali. Banyak warganet yang memberikan dukungan secara terbuka kepada kepala sekolah tersebut.
Komunitas pengguna internet menilai bahwa sikap kepala sekolah menunjukkan kepedulian yang besar terhadap keselamatan dan kesehatan anak didiknya. Banyak komentar yang memuji keberaniannya, bahkan ada yang berharap aksi tersebut bisa menjadi pemicu bagi sekolah lain untuk menyuarakan jika menemukan masalah serupa di lapangan.
Beberapa warganet memberi semangat dan melihat kepala sekolah sebagai wakil suara orang tua dan masyarakat yang selama ini merasa program MBG kurang diperhatikan secara serius dalam hal kualitas.
Dukungan luas ini mencerminkan keprihatinan masyarakat akan program yang awalnya bertujuan baik namun dinilai kurang maksimal pelaksanaannya.
Dampak Sosial dan Edukasi
Reaksi ini tidak hanya berhenti di dunia maya. Kritik yang muncul membuka diskusi lebih luas mengenai tanggung jawab penyelenggara program pemerintah dan pentingnya standar gizi yang layak bagi anak-anak sekolah.
Banyak yang setuju bahwa program serupa harus memiliki audit kualitas makanan secara berkala agar kejadian serupa tidak terulang.
Kritik ini juga memicu pembicaraan di kalangan orang tua dan pendidik tentang pentingnya keterlibatan profesional dalam pengelolaan program makan di sekolah. Hal ini berkaitan dengan standar kesehatan dasar yang harus dipenuhi dalam menyajikan makanan untuk anak-anak.
Apa yang Perlu Diperhatikan dari Kasus Ini
Standar Pangan dan Pengawasan
Kasus ini memperlihatkan bahwa masih ada celah dalam pengawasan dan pelaksanaan program MBG di tingkat sekolah. Meski program bertujuan membantu pemenuhan gizi anak, kualitas makanan yang buruk menunjukkan kurangnya standar dan kontrol dalam proses produksi dan distribusi makanan tersebut.
Selain itu, keterlambatan anggaran dan tidak adanya kompensasi ketika layanan tidak berjalan membuat kepala sekolah menyoroti aspek manajemen yang perlu diperbaiki.
Hal seperti ini menimbulkan pertanyaan lebih besar tentang mekanisme kerja program MBG secara keseluruhan, khususnya dalam penyediaan sumber daya serta pengawasan kualitas di seluruh tahap pelaksanaannya.
Peran Sekolah sebagai Pengawas Lapangan
Kepala sekolah yang turun tangan menunjukkan peran penting sekolah dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan siswa. Institusi pendidikan bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana kebutuhan dasar siswa seperti nutrisi harus diperhatikan dengan serius.
Dengan suara yang lantang ini, kepala sekolah tidak hanya memperjuangkan hak siswanya, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai bagaimana program pemerintah di lapangan bisa dijalankan lebih baik dan transparan.
Kesimpulan: Momen Refleksi untuk Program MBG
Insiden protes kepala sekolah Lampung Utara ini mengingatkan bahwa tujuan baik program pemerintah harus selalu diiringi oleh implementasi yang benar-benar menjamin kualitas dan keselamatan.
Aksi tersebut memicu diskusi publik lebih luas dan dukungan masyarakat, sekaligus membuka mata berbagai pihak untuk memperbaiki mekanisme pelaksanaan MBG agar sesuai dengan tujuan awalnya: memberikan makanan bergizi yang layak dan aman bagi anak sekolah.
