Beberapa wilayah di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami fenomena langka: hujan tidak kunjung turun selama lebih dari dua bulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa kondisi ini tak hanya disebabkan oleh musim kemarau biasa.
Ada faktor-faktor atmosferik yang berperan besar. Artikel ini mengulas wilayah-wilayah terdampak, penyebab ilmiahnya, konsekuensi yang mungkin muncul, dan langkah mitigasi yang bisa diambil.
Dampak Kekeringan yang Berkepanjangan
Wilayah yang Terkena Imbas
BMKG mencatat bahwa ada empat kawasan utama di Indonesia yang sudah melewati batas dua bulan tanpa hujan: Bali, NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Jawa Timur. Di wilayah NTB, khususnya di Bima, tercatat sudah 136 hari berturut-turut tanpa hujan.
Di NTT, kabupaten seperti Sumba Timur (126 hari), Lembata (124 hari), dan Sabu Raijua (119 hari) juga merasakan dampaknya. Sedang di Bali, terutama Buleleng, hujan absen selama 95 hari. Begitu pula di Jawa Timur, seperti di Banyuwangi, tercatat 95 hari tanpa hujan.
Skala Pengaruh ke Kegiatan Warga
Ketiadaan hujan dalam waktu lama bukan sekadar soal langit cerah. Keadaan ini bisa memicu kekeringan pertanian, gangguan pasokan air, degradasi lahan, dan potensi kebakaran lahan.
Petani lokal bisa kehilangan musim tanam, sumur bisa kering, dan vegetasi menjadi rentan terhadap kebakaran. Dalam jangka panjang, ketersediaan air bersih juga bisa terganggu.
Faktor Pemicu Kekeringan Lebih dari Biasa
Perubahan Sirkulasi Atmosferik
Salah satu penyebab utama adalah perubahan pola sirkulasi atmosfer skala besar. Saat musim hujan di sebagian daerah, wilayah Bali dan NTT justru berada di sisi yang tidak mendapatkan suplai uap air optimal. Hal ini bisa disebabkan oleh pergeseran angin, pola tekanan rendah atau tinggi, dan zona konvergensi yang bergeser.
Efek Zona Konvergensi & Zona Orografik
Distribusi zonasi konvergensi (ZOM) juga menjadi faktor kritis. Jika posisi zona konvergensi bergeser jauh dari Bali–NTT, suplai awan pembentuk hujan bisa melemah.
Ditambah lagi, kondisi topografi bukit, pegunungan, atau pegunungan sisi bayangan dapat menahan atau mengubah aliran udara lembap sehingga curah hujan tidak optimal meski ada potensi uap air.
Faktor Musiman & Variabilitas Iklim
Fenomena iklim seperti pengaruh Monsun, interaksi suhu permukaan laut, dan pola El Niño/La Niña juga punya kontribusi. Apabila kondisi suhu laut di Samudera Hindia atau Pasifik mendukung penyebaran udara kering, maka curah hujan dapat tertahan atau bahkan hampir hilang di beberapa daerah. Variabilitas iklim lokal memperkuat situasi ekstrem ini.
Tantangan & Risiko yang Muncul
Krisis Air & Kebutuhan Dasar
Ketika hujan tidak turun lama, sumur dangkal atau aliran sungai bersifat musiman akan mengering. Masyarakat yang mengandalkan air permukaan bisa mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Kebutuhan sehari-hari, pertanian, peternakan—semuanya bisa terganggu.
Ketahanan Pangan Terancam
Petani yang biasa menanam tanaman musiman sangat bergantung pada curah hujan. Tanpa air cukup, tanam bisa gagal. Panen pun menurun, yang berdampak langsung ke pendapatan petani dan ketersediaan pangan lokal.
Kerusakan Tanah & Kebakaran Lahan
Kekeringan berkepanjangan dapat mengakibatkan degradasi struktur tanah (menjadi lebih rapuh, kehilangan unsur hara), dan memperbesar risiko kebakaran, terutama lahan gambut atau padang rumput kering.
Bagaimana Mengantisipasi & Menanggulangi
Pemantauan Iklim & Peringatan Dini
BMKG dan lembaga terkait harus menjaga pemantauan intensif pola cuaca, tekanan atmosfer, dan pergerakan zona konvergensi. Peringatan dini ke masyarakat sangat penting agar bisa mempersiapkan langkah mitigasi seperti penyimpanan air, pembatasan penggunaan, atau pengaturan jadwal tanam.
Diversifikasi Sumber Air
Komunitas lokal perlu mengembangkan cadangan air alternatif: embung, sumur dalam, penampungan air hujan (jika musim hujan masih ada di sebagian kecil waktu), serta manajemen air yang baik agar tidak boros saat musim aman.
Adaptasi Pertanian
Petani bisa beralih ke varietas tanaman yang tahan kering, sistem tanam hemat air (seperti mulsa, sistem drip irrigation), dan penyesuaian kalender tanam mengikuti pola hujan terkini. Tanaman sela yang toleran kekeringan dapat menjadi tambahan sumber pangan dan pendapatan.
Reforestasi & Pengelolaan Lahan
Menghijaukan kembali daerah tangkapan hujan dan menjaga vegetasi alam bisa meredam aliran air dan membantu siklus air tetap aktif. Lahan yang terjaga juga mengurangi erosi dan menjaga kelembapan tanah.
Tantangan dan Peluang di Tengah Kekeringan
Kekeringan lebih dari dua bulan di Bali, NTT, NTB dan sebagian Jawa Timur bukan sekadar fenomena musiman biasa. Faktor iklim, sirkulasi atmosfer, dan pergeseran zona konvergensi ikut bekerja di balik layar. Imbasnya sangat nyata: air berkurang, pertanian terganggu, dan risiko lingkungan meningkat.
Namun, lewat upaya mitigasi, adaptasi, dan kolaborasi antara lembaga ilmiah dan masyarakat, dampak ini masih bisa ditekan. Ke depan, kunci keberhasilan ada pada kesiapan, inovasi, dan menjaga keseimbangan alam agar kondisi ekstrem seperti ini tidak terus berulang.
